| Seorang warga Indonesia meninggal dan karena amal perbuatannya buruk lalu ia dikirim menuju ke neraka. Di sana ia mendapatkan bahwa ternyata neraka itu berbeda-beda bagi tiap negara asal.Pertama ia ke neraka orang-orang Inggris dan bertanya kpd orang-orang Inggris disitu: "Kalian diapain sini?"Orang Inggris menjawab: "Pertama-tama, kita didudukan di atas kursi listrik selama satu jam. Lalu didudukan di atas kursi paku selama satu jam lagi. Lalu disiram dengan bensin dan disulut api. Lalu, setan Inggris muncul dan memecut kita sepanjang sisa hari." Karena kedengarannya tidak menyenangkan, si orang Indonesia menuju ke neraka lain. Ia coba melihat-lihat bagaimana keadaan di neraka AS, neraka Israel , neraka Rusia dan banyak lagi. Ia mendapatkan bahwa ke semua neraka-neraka itu kurang-lebih mirip dengan neraka orang Inggris.Akhirnya ia tiba di neraka orang Indonesia sendiri, dan melihat antrian sangat sangat panjangnya yang terdiri dari orang berbagai bagai Negara (tidak cuman orang Indonesia saja) yang menunggu giliran untuk masuk neraka Indonesia . Dengan tercengang ia bertanya kepada yang ngantri: "Apa yang akan dilakukan di sini?"Ia memperoleh jawaban: "Pertama-tama, kita didudukan diatas kursi listrik selama satu jam. Lalu didudukan di atas kursi paku selama satu jam lagi. Lalu disiram dengan bensin dan disulut api. Lalu setan Indonesia muncul dan memecut kita sepanjang hari." "Tapi itu kan persis sama dengan neraka-neraka yang lain toh. Kenapa dong begitu banyak orang ngantri untuk masuk ke sini?""Di sini service-nya sangat sangat buruk, kursi listriknya nggak nyala, karena listrik sering mati, kursi pakunya nggak ada, jadi tinggal pakunya aja ukurannya kecil kecil pula, karena kursinya sering diperebutkan, bensinnya juga nggak ada tuh, karena harganya melambung tinggi, malah ditahun 2008 ini sudah 2 kali naik harganya, dan setannya adalah mantan pegawai negeri, jadi ia cuma datang, tanda tangan absensi, lalu pulang." |
Selasa, 03 Juni 2008
"Neraka Indonesia"
Selasa, 06 Mei 2008
"Rumah Makan Monopoli"
SEBUAH Analogi berpikir: Katakanlah saya adalah orang satu-satunya yang diberi hak monopoli oleh pemegang otoritas di kota ini untuk membuka rumah makan, tentulah seluruh masyarakat akan membeli makanan hanya di rumah makan saya. Mengenai harga, saya yang atur bukan pasar atau masyarakat. Kalau memang demikian adanya tentulah para pembaca sekalian sependapat bahwa saya tidak mungkin rugi bahkan saya akan mendapatkan keuntungan yang sangat besar karena seluruh masyarakat sangat bergantung pada saya. Analogi di atas berbanding terbalik keadaannya dengan BUMN-BUMN yang ada di Indonesia, sebagai badan usaha yang memegang hak monopoli (katakanlah PLN, Pertamina, dll) seharusnya mampu memberikan keuntungan yang besar bagi negara. Tapi pada kenyataan BUMN-BUMN tersebut tidak mampu meraup keuntungan yang besar bahkan justeru membebani Negara dengan kerugian-kerugian yang dilaporkannya setiap tahun. Kembali lagi dengan analogi "Rumah Makan monopoli" di batas, kalau seandainya orang berdagang selalu rugi dan rugi melulu. Pertanyaannya ngapain diteruskan, tutup saja rumah makan tersebut dan berikan kesempatan kepada orang lain untuk buka rumah makan dan kalau perlu ramai-ramai undang orang yang mau buka rumah makan di kota kita ini (biar tidak monopoli). Sungguh miris bagi kita semua BUMN seperti PLN yang sudah berdiri 50 tahunan masih miskin fasilitas, miskin sarana, miskin daya, dan nyaris kolap. Dasar sebuah manajemen yang tidak becus dan tidak bertanggung jawab. Denie Amiruddin Pontianak ( berita yang sama di harian Pontianak Post edisi Selasa, 3 Juli 2007) |
Langganan:
Komentar (Atom)