Selasa, 06 Mei 2008

"Rumah Makan Monopoli"


SEBUAH Analogi berpikir: Katakanlah saya adalah orang satu-satunya yang diberi hak monopoli oleh pemegang otoritas di kota ini untuk membuka rumah makan, tentulah seluruh masyarakat akan membeli makanan hanya di rumah makan saya. Mengenai harga, saya yang atur bukan pasar atau masyarakat. Kalau memang demikian adanya tentulah para pembaca sekalian sependapat bahwa saya tidak mungkin rugi bahkan saya akan mendapatkan keuntungan yang sangat besar karena seluruh masyarakat sangat bergantung pada saya. Analogi di atas berbanding terbalik keadaannya dengan BUMN-BUMN yang ada di Indonesia, sebagai badan usaha yang memegang hak monopoli (katakanlah PLN, Pertamina, dll) seharusnya mampu memberikan keuntungan yang besar bagi negara. Tapi pada kenyataan BUMN-BUMN tersebut tidak mampu meraup keuntungan yang besar bahkan justeru membebani Negara dengan kerugian-kerugian yang dilaporkannya setiap tahun. Kembali lagi dengan analogi "Rumah Makan monopoli" di batas, kalau seandainya orang berdagang selalu rugi dan rugi melulu. Pertanyaannya ngapain diteruskan, tutup saja rumah makan tersebut dan berikan kesempatan kepada orang lain untuk buka rumah makan dan kalau perlu ramai-ramai undang orang yang mau buka rumah makan di kota kita ini (biar tidak monopoli). Sungguh miris bagi kita semua BUMN seperti PLN yang sudah berdiri 50 tahunan masih miskin fasilitas, miskin sarana, miskin daya, dan nyaris kolap. Dasar sebuah manajemen yang tidak becus dan tidak bertanggung jawab. Denie Amiruddin Pontianak ( berita yang sama di harian Pontianak Post edisi Selasa, 3 Juli 2007)